Pemahaman terhadap kisah-kisah mukjizat dalam Al-Qur’an kerap berhenti pada pembacaan literal yang menempatkan iman berhadapan dengan sains. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan rasionalitas modern, cara baca semacam ini sering memunculkan jarak antara keyakinan keagamaan dan akal kritis. Buku Antara Mukjizat dan Metafora: Menafsir Kembali Kisah-Kisah Al-Qur’an secara Saintifik hadir untuk menjembatani ketegangan tersebut melalui pendekatan yang reflektif dan dialogis.
Buku ini mengkaji berbagai kisah Qur’ani—mulai dari Musa dan laut yang terbelah, Ibrahim dan api yang tak membakar, Isa dan kelahiran tanpa ayah, Isra’ Mi’raj, hingga Sulaiman dan bahasa semut—dengan memadukan tafsir Al-Qur’an, sains modern, filsafat, dan psikologi. Mukjizat tidak diposisikan sebagai penolakan terhadap hukum alam, melainkan sebagai simbol kebesaran Tuhan yang dapat dipahami melalui keteraturan semesta, pengalaman batin manusia, dan pesan moral yang bersifat universal.
Melalui tafsir saintifik, buku ini tidak bertujuan membuktikan Al-Qur’an secara ilmiah, tetapi membuka ruang dialog antara iman, akal, dan fakta. Ditujukan bagi akademisi, pendidik, mahasiswa, dan pembaca kritis, buku ini mengajak pembaca membangun religiositas yang rasional, spiritual, dan relevan dengan tantangan zaman modern.